Selasa, 02 Maret 2021

Anak Beranjak Remaja, Lakukanlah Hal Ini


Ketika anak sudah beranjak remaja, banyak perubahan yang tidak hanya dialami oleh anak. Orang tua pun ikut mengalami perubahan. Dari yang tadinya Bunda masih bisa peluk-peluk anak didepan umum, sekarang anak sudah tidak mau lagi dipeluk. Emosi mereka pun selalu berubah. Jadi cara untuk menghadapi mereka juga berbeda.

Menurut Psikolog, Ayoe Sutomo, anak mulai menginjak remaja ketika usia 10 tahun. Tapi, itu masih masih masa remaja awal. Nah, biasanya anak akan banyak mengalami masalah-masalah pubertas di usia 13-15 tahun. Kata Ayoe, baiknya orang tua tidak melewatkan masa-masa krusial yang dialami anak dimasa remaja ini. Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan Bunda dan Ayah ketika anak mulai beranjak remaja :

1. Pahami Kondisi Remaja

Hal pertama yang perlu dilakukan orang tua saat anak beranjak remaja adalah memahami bahwa masa remaja adalah masa 'badai' untuk anak. Mereka melalui berbagai tantangan dimasa ini. Pahami juga perubahan mood remaja. Ketika terjadi perubahan emosi, Bunda dan Ayah sudah bisa memaklumi kondisi tersebut.

"Jadi, kalau anaknya moody, kemudian marah-marah terus, pahami bahwa itu adalah perubahan hormon yang terjadi. Jadi kondisi itu tidak sepenuhnya salah anak," ujar Ayoe baru-baru ini.

2. Jadikan Anak Sebagai Teman

Berusahalah menjadi teman untuk anak, dan menjadi bagian dari hidup anak. Bisa dengan cara mendengarkan ceritanya tentang apapun yang dia alami disekolah atau dilingkungan teman-temannya. Mungkin juga dengan meminta pendapat anak ketika Bunda dan Ayah akan membuat keputusan. Dengan begini, anak akan merasa keberadaan mereka berarti.

3. Hargai Privasi Anak

Kata Ayoe, anak yang menginjak usia remaja sudah memiliki privasi sendiri, baik dimedia sosial atau dunia nyata. Mereka membutuhkan kedekatan dengan teman-teman dan lingkungan. Jadi, Bunda dan Ayah sekadar memantau pertemanan anak tanpa ikut-ikut didalamnya.

Ayoe menyarankan, untuk menjaga privasi anak dimedia sosial, orang tua tetap boleh mem-follow akun media sosial anak, dan bilang bahwa Bunda dan Ayah follow media sosial mereka. Tapi hanya menjadi 'Silent Followers'. Tidak boleh ikut-ikutan komentar bareng teman-teman anak. Kalau Bunda dan Ayah ingin menanyakan sesuatu, jangan sampaikan dikolom komentar dimedia sosialnya. Tanyakan saja secara langsung supaya anak tetap merasa dihargai privasinya.

"Orang tua tidak boleh ikutan nimbrung komen di situ. Kadang kala itu membuat anak risi. Akhirnya, anak mebuat alter account. Akun lain yang tidak ada orang tuanya. Kalau memang mau jadi followes, ya sudah follow, dan bilang sama anaknya. Tapi ya itu, hargai privasi anak. Justru orang tua akan menjadi teman yang baik, bisa update," papar Ayoe.

Ketika anak beranjak remaja, orang tua tidak lagi menjadi pelindung untuk anak. Bunda dan Ayah justru berganti peran menjadi teman dan sahabat yang baik untuk remaja. Sehingga, anak bisa menceritakan apapun pada orang tuanya tanpa canggung dan ragu. Jadi, Bunda dan Ayah tetap bisa mengetahui kondisi anak. 

Sumber : www.haibunda.com


Senin, 01 Maret 2021

Bagaimana Cara Merubah Perilaku Anak ?

 

Mudah untuk menyalahkan anak dan memarahinya ketika ia berbuat salah. Tapi apakah Anda berpikir bahwa anak mungkin saja merasa tersakiti karenanya ? Terkadang, anak berperilaku buruk bukan karena ia buruk. Ada kalanya ia sedang mencari perhatian Anda. Karena bentuk komunikasi itulah yang ia tahu. 

Namun, karena dorongan emosi, Anda pun merasa jengkel. Ada pula yang berteriak-teriak marah. Bahkan, tak sedikit pula yang kemudian membiarkan anak dengan perilaku buruknya, dengan asumsi nanti jika ia dewasa kelak, akan mengerti dan berubah dengan sendirinya. Inilah yang berbahaya.

Biar bagaimana pun pendidikan tentang budi pekerti penting untuk ditanamkan sejak dini, yang meliputi proses latihan terus-menerus, sehingga ketika anak dewasa, kepribadiannya sudah terbentuk berkat kebiasaan-kebiasaan baik yang Anda sebagai orang tuanya telah tanamkan.

Terkait dengan membentuk kepribadian anak, konsultan parenting di Los Angeles, AS, Bernard Percy, mengatakan: 

"Jika Anda berfokus pada apa yang anak lakukan salah, dia akan menolak, yang mengarah pada argumen dan perilaku buruk." Lantas, saran apa yang dapat Anda kembangkan untuk mengatasi perilaku negatif anak dan mengubahnya menjadi sesuatu yang positif ?

1. Jangan bereaksi

Kesalahan yang kerap dilakukan orang tua adalah menanggapi perilaku buruk. Ini dikatakan Ed Christophersen, Ph.D, psikolog di Rumah Sakit Anak, di Kansas City, AS. Maka ia menyarankan jika jika ada anak yang merengek meminta sesuatu di toko mainan atau membuat kegaduhan di rumah, sebaiknya Anda berpura-pura tidak melihat atau tidak mendengar.

Tantangannya adalah anak mungkin akan berteriak keras, bahkan kemarahannya naik level menjadi mengamuk, karena tidak berhasil memancing perhatian Anda. Tapi justru inilah kuncinya. Ketika Anda berhasil untuk tidak bereaksi, rengekan itu akan kehilangan energi dengan sendirinya.

2. Bicara bersama

Saat anak sudah tenang, ajak ia duduk bersama. Kemudian jelaskan mengapa perilakunya salah dan perilaku seperti apa yang Anda harapkan darinya. Mungkin untuk kali pertama, si kecil akan tidak sepenuhnya memahami. Namun, proses ini tetap penting karena mencakup penanaman nilai dan aturan dalam keluarga supaya anak menjadi lebih baik lagi.

3. Konsisten

Suasana hati kadang memengaruhi sikap Anda pada anak. Ini salah satu yang dapat menimbulkan tidak konsisten dalam menerapkan aturan yang seharusnya dipatuhi tanpa kompromi. Sekali Anda mengatakan pada anak untuk pergi tidur jam 9 malam, seterusnya akan begitu. Jika anak melihat bentuk pelanggaran dilakukan oleh orang tuanya, jangan heran jika ini terekam sebagai contoh dalam otak anak.

4. Tidak instan

Perilaku baik pada anak tidak melibatkan proses yang instan. Diperlukan penanaman nilai-nilai beserta aturan-aturan yang berkelanjutan sejak ia kecil. Maka itu, Anda pun jangan pernah bosan untuk mengarahkan anak dengan menunjukkan contoh-contoh perilaku baik yang Anda inginkan juga dilakukan anak.

5. Hindari kekerasan fisik

Selain menimbulkan trauma, hukuman fisik juga dapat menghalangi anak untuk berperilaku lebih baik. Anda boleh keras. Tapi dari segi aturan. Kedisiplinan yang Anda terapkan adalah untuk menunjukkan pada anak mana perilaku baik dan buruk. Bukan justru membuat anak semakin terpuruk karena mendapat hukuman yang membuat ia tersakiti.


Rabu, 13 Januari 2021

Direktur Bimbel An-Nafesha : Pemerintah Harus Punya Solusi Konkrit Terhadap Pendidikan

Jakarta, annafeshabimbel.blogspot.com, Setelah libur panjang akhir tahun dan semester ganjil, para siswa yang bersekolah akan dihadapkan dengan semester genap. Dimana kegiatan belajar-mengajar disemester genap mayoritas sudah berlangsung pada hari ini (4/1). Namun karena penyebaran Covid-19 di Indonesia yang belum stabil dan menurun, maka Pemerintah Pusat mengambil keputusan bahwa kegiatan belajar-mengajar sekolah masih melalui daring atau online.

Harapan dari para wali murid akhirnya sirna, dimana mereka menginginkan proses belajar-mengajar secara tatap muka secara langsung disemester genap ini. Pasalnya, kendala demi kendala terus bermunculan ketika proses belajar-mengajar menggunakan daring atau online. Seperti kuota paket handphone yang tidak tercukupi, anak malas belajar, dan lain sebagainya.

Menanggapi hal tersebut, Andriyatno selaku Direktur Bimbel  An-Nafesha Jakarta mengatakan "Sudah saatnya Pemerintah Pusat mencari solusi didalam permasalahan pendidikan selama pandemi ini, jangan biarkan kualitas pendidikan kita menurun karena anak didik hanya belajar melalui daring ataupun online, tegasnya". 

Lanjut Andriyatno mengatakan "Terobosan dan solusi baru seharusnya bisa dicetuskan oleh Pemerintah Pusat agar kegiatan belajar-mengajar disekolah-sekolah bisa berjalan secara tatap muka. Seperti halnya menggilir siswa yang hendak masuk, atau menggilir kelas-kelas yang ada agar tidak berbarengan, dan melakukan proses belajar-mengajar dengan waktu yang singkat, tutupnya".





Kamis, 27 Agustus 2020

Sistem Belajar Daring, Dan Ketika Internet Menjadi Guru Bagi Anak

 

Sudah kita ketahui bersama bahwa sistem ataupun metode pembelajaran selama masa pandemi Covid-19 ini telah berubah, yakni dari sistem dan metode pembelajaran langsung menuju pembelajaran tidak langsung (online). Tentu hal ini akan memberikan dampak yang sangat terasa bagi para peserta didik dan juga para orangtua. Dimana para peserta didik tentu tidak seperti belajar disekolah, melainkan akan berhadapan dengan alat komunikasi dan penunjangnya seperti kuota internet. Begitupun juga dengan orangtua, yang pada akhirnya akan mengalami kesulitan mengajari anak-anaknya ketika dirumah, dikarenakan beragam sebab, seperti waktu yang tidak ada, bahkan tidak mengerti metode pembelajaran bagi anak-anaknya.

Tentu hal ini akan berakibat adanya jurang pemisah yang sangat jelas, yakni tidak adanya figur sesosok manusia mulia seperti Guru. Dimana peran guru didalam pembelajaran sangatlah sentral, hal ini sebagaimana arti dari guru yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantoro, dimana beliau mengartikan Guru sebagai :

1.    Ing Ngarsa Sung Tuladha, artinya seorang guru adalah pendidik yang harus memberi teladan. Ia pantas digugu dan ditiru dalam perkataan dan perbuatannya. 

2.    Ing Madya Mangun Karsa, artinya seorang guru adalah pendidik yang selalu berada di tengah-tengah para muridnya dan terus-menerus membangun semangat dan ide-ide mereka untuk berkarya. 

3.    Tut Wuri Handayani, artinya seorang guru adalah pendidik yang terus-menerus menuntun, menopang dan menunjuk arah yang benar bagi hidup dan karya anak-anak didiknya.

Begitulah seharusnya peran guru yang sebenarnya, dimana guru menjadi sentral bagi sistem pembelajaran, karena Ia digugu dan ditiru oleh para murid-muridnya. Begitupun seorang guru selalu diposisi tengah-tengah diantara murid-muridnya, memberi semangat, ide-ide dan kreatifitas terhadap murid-muridnya. Namun hal ini semakin hilang ketika masa pandemi Covid-19 ini, dimana peran guru akhirnya berubah dengan sendirinya, yakni ketika pembelajaran online, akhirnya digantikan dengan alat komunikasi sebagai alat proses belajar.

Hal ini merupakan suatu hal yang membingungkan bagi instansi pendidikan, dilain sisi pembelajaran online sangatlah tidak efektif karena para siswa akhirnya tidak sepenuhnya belajar dirumah, dan dilain sisi jika instansi sekolah tidak menugaskan para siswanya dirumah, maka yang akan terjadi yakni semakin banyak jatuh korban akibat penyebaran virus corona.

Namun ada hal yang menarik, bahwa ketika selama pembelajaran online ini, maka peran guru akan digantikan dengan “Internet”, hal ini merupakan sebuah degradasi didalam dunia pendidikan, ataupun juga sebaliknya yakni merupakan respon dari perkembangan zaman.

Internet menjadi sebuah sebab degradasi didalam sistem dan dunia pendidikan, yakni seperti ditandai oleh gejala-gejala yang akut bagi para siswa, dimana para siswa telah mendewakan internet didalam belajarnya, sehingga sosok seorang guru seperti hilang ditelan bumi, hasilnya para siswa malas dan enggan membaca buku pelajaran, bahkan malas menulis, dan akhirnya tergantung pada internet. Pada dasarnya Internet bisa melebih guru, tinggal diketik ataupun dicari semua pelajaran, maka akan keluar semua. Namun pembelajaran budi pekerti yang diberikan oleh para guru tentu tidak akan didapati didalam internet.

Dan juga sebaliknya, internet merupakan sebuah respon dari perkembangan zaman. Dimana diabad ke-21 ini zaman semakin menggeliat, dengan ditandai ledakan arus teknologi dan komunikasi yang begitu pesat. Dengan begitu internet merupakan hasil dan anak dari globalisasi dan modernisasi tersebut. Sehingga segala macam sendi kehidupan tidak bisa terlepas dari teknologi dan alat komunikasi. Salah satu contohnya yakni dimana para manusia mungkin akan bisa bertahan ketika tidak makan seharian, namun tidak mampu bertahan ataupun gelisah ketika tidak ada handphone ditangannya. Tentu hal tersebut merupakan hasil dari ledakan globalisasi dan modernisasi. Oleh sebab itu zaman semakin berkembang, dan setiap zaman pastilah memiliki sejarah sendiri, dan hasil sejarah saat ini adalah bahwa manusia akan berkembang menjadi manusia yang tidak terlepas dari teknologi, dan bahkan tidak mungkin nantinya akan muncul manusia yang berteknologi, yang mampu didalam tubuhnya disandikan, dan dimasukkan oleh alat-alat teknologi yang canggih.

Untuk itu bagi para orangtua, mereka harus melihat gejala ini sebagai sebuah tantangan dan juga kewaspadaan. Tantangan itu yakni bahwa teknologi pada akhirnya bisa dimanfatkan kepada hal-hal yang positif, dan menjadikan teknologi sebagai alat perekembangan anak-anaknya, salah satunya belajar, namun juga jangan terus-menerus terlena didalam teknologi, karena akan mengakibatkan anak menjadi penggila teknologi dan akhirnya menjadikan teknologi sebagai garis kehidupannya, seperti halnya anak-anak yang setiap harinya asyik dengan game dan tiktok digadgetnya.

Dan teknologi seperti internet ini pada akhirnya bisa menjadi sebuah kewaspadaan bagi para orangtua terhadap anak-anaknya. Karena internet memiliki arus yang buas tanpa filterisasi dari seorang anak tersebut. Untuk itu sudah sepatutnya para orangtua menjadi filter bagi anak-anaknya ketika internet menggeliat seperti sekarang ini. Dan perlu digaaris bawahi bahwa internet tidak bisa menjadikan seorang anak memiliki budi pekerti yang luhur. Untuk menjadikan seorang meiliki budi pekerti yang luhur yakni langsung dengan didikan seorang guru dan orangtua.

Semoga kita semua bisa menjadikan anak-anak kita lebih baik lagi, yang menggunakan teknologi untuk kegiatan yang bermanfaat, dan sebagai jembatan emas menuju kesuksesan.

Penulis : (Bimbel An-Nafesha)

Rabu, 26 Agustus 2020

Solusi Untuk Orangtua Selama Anak Belajar Daring


Masa pandemi seperti ini telah berdampak keseluruh sektor, bahkan yang merasakan dampaknya yakni sektor “Pendidikan”. Sebagaimana kita ketahui bahwasannya pendidikan merupakan aspek terpenting dari sebuah kehidupan, manusia jika tidak mempunyai pendidikan, dan tidak berpendidikan maka kehidupannya tidak jelas terarah. Untuk itu pendidikan merupakan syarat dan faktor terpenting didalam keberhasilan seseorang didalam dunia. Dengan pendidikan manusia dapat membedakan mana yang salah dan benar, juga yang mana yang baik dan juga tidak baik.

Namun dalam masa pandemi seperti ini, nampaknya pendidikan telah mati. Salah satu bukti nyatanya yakni dimana sekolah-sekolah diliburkan, dikarenakan pemerintah khawatir jika sekolah tetap masuk dikala masa pandemi covid seperti ini, akan banyak para siswa yang terkena dan terpapar virus corona. Jika ditelisik lebih jauh dengan ilmu kesehatan, maka alasan itu cukup kuat, karena yang paling rentan terkena virus corona adalah para orangtua lanjut usia dananak-anak.

Dan tentu saja, akibat dari liburnya sekolah dalam masa pandemi covid seperti ini, instasi-instasi sekolah dan pemerintah akhirnya mengeluarkan banyak kebijakan. Salah satu kebijakan dari pemerintah dan sekolah yakni dengan menyelenggarakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Pembelajaran jarak jauh merupakan solusi dan alternatif yang dikeluarkan pemerintah dan sekolah-sekolah agar para siswa mau belajar dirumah sebagai pengganti belajar disekolah. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) ini merupakan sebuah model pembelajaran berbasis online. Dengan begitu objek yang dituju adalah alat komunikasi seperti handphone, dan subjeknya adalah siswa itu sendiri dan orangtua. Jadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) ini bukan hanya saja terdapat masalah, namun akan merumitkan para orangtua yang jarang bahkan tidak pernah mengajari anak-anaknya dirumah.

Masalah-masalah yang ditimbulkan sebab Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) ini sangatlah beragam. Salah satunya adalah bahwa para orangtua harus memiliki akses internet yang memadai, jika tidak pasti akan menjadi sebuah kendala didalam belajar anak-anaknya. Dan masalah internet ini berkaitan dengan kuota paket, dan kuota paket berkaitan dengan uang. Karena tidak semua para orangtua tidak memiliki uang untuk membeli kuota paket internet. Hal ini diperparah dengan wacana pemerintah yang akan memberikan kuota internet gratis, namun itu semua hanya ilusi belaka.

Kemudian masalah selanjutnya yakni bahwa para orangtua tidak handal dan tidak cakap didalam mengajarkan anak-anaknya, terutama tugas sekolah. Jika para orangtua yang mungkin hanya lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA), ataupun bahkan lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) tentu akan kesulitan jika berhadapan dengan anak-anaknya didalam mengerjakan tugas sekolah. Karena tidak semua para orangtua yang memiliki dan mengerti metode pembelajaran sekolah. Tentunya dari situ anak akan mudah bosan, jenuh, bahkan orangtua akhirnya emosi karna sikap anak-anaknya. Hasilnya anak-anaknya menggunakan handphone untuk bermain game, bukan untuk belajar.

Lalu masalah yang terakhir yang biasa dihadapi orangtua ketika Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) ini adalah bahwa para orangtua sering sibuk dengan urusan pribadi bahkan pekerjaannya. Karena tidak semua para orangtua yang dirumah atau bekerja dirumah, hasilnya anak-anaknya tidak ada yang mengurus dan bahkan lalai didalam belajar. Oleh sebab itu akhirnya anak-anaknya lebih memilih bermain diluar atau bermain game, dan mengabaikan tugas-tugas dari sekolah.

Oleh sebab itu tidak ada cara lain kecuali para orangtua mengamati masalah-masalah selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) ini dengan seksama. Jika tidak, pasti akan berdampak kepada anak, yakni anak akan malas belajar, anak akan mengabaikan perintah orangtua, bahkan yang terparah adalah bahwa anak minim prestasi disekolah yang berujung tidak naik kelas disekolahnya. Tentu hal ini harus dicermati oleh para orangtua, agar nantinya anak tidak menjadi bahan kesalahan orangtua jika tidak berprestasi disekolah.

Tidak ada kata lain kecuali orangtua harus mempunyai solusi untuk anak-anaknya, salah satu solusi yang dianggap jitu adalah dengan menyerahkan anak-anaknya kepada Bimbingan Belajar (Bimbel). Dengan menyerahkan anak-anaknya kepada bimbel, orangtua tidak akan bingung lagi dengan kuota internet, metode pembelajaran, bahkan tentang kesibukan sehari-hari. Karena ketika para orangtua menyerahkan anak-anaknya kepada bimbel yang terpecaya, anak-anaknya setidaknya akan diajari oleh guru bimbel yang mengajar, dan tugas-tugas sekolah akan terselesaikan tanpa orangtua mengajari lagi, bahkan banyak anak-anak yang berprestasi disekolah karena mengikuti bimbingan belajar (bimbel).

Untuk itu kami  dari Bimbingan Belajar An-Nafesha (Bimbel An-Nafesha) mengajak kepada para orangtua agar menyerahkan anak-anaknya kepada kami. InsyaAllah anak-anaknya akan kami berikan yang terbaik dengan metode pembelajaran yang kami ketahui, dan diajarkan oleh guru yang sudah berpengalaman. Kesemuanya itu akan berbalik kepada Ayah dan Bunda, karena kami tidak akan mengumbar janji, namun akan memberikan bukti, yakni dengan prestasi yang cemerlang bagi anak-anaknya disekolah.

Kontak Person : 0838-908-233-14

Penulis : (Bimbel An-Nafesha)

Jumat, 21 Agustus 2020

Bagaimana Cara Meningkatkan Prestasi Disekolah ?




Mendapatkan prestasi disekolah baik kenaikan kelas, mendapatkan peringkat, atau memenangi perlombaan disekolah merupakan dambaan bagi seluruh orangtua. Karena keberhasilan orangtua secara lahir didalam mendidik anak-anaknya yakni salah satunya dengan adanya bukti "Prestasi". Prestasi merupakan hasil dari jerih payah seseorang didalam memperoleh sesuatu yang didalamnya berisi rintangan ataupun hambatan.

Dengan begitu prestasi merupakan dambaan bagi seorang anak maupun para orangtua. Karena didalam prestasi berisikan rintangan ataupun hambatan didalam menuju sesuatu yang ingin dicapai. Keberhasilan mendapatkan prestasi bagi seorang anak tidak lain tidak bukan karena adanya peran orangtua didalam membentuk sifat, mental, dan juga karakter. Karena aspek-aspek tersebut sangatlah penting didalam membangun prestasi disekolah.

Ketika berbicara sifat dan mental, maka para orangtua harus berupaya semaksimal mungkin untuk merubah sifat dan mental anak-anaknya, misalnya dari sifat dan mental pemalu jadi pemberani. Karena untuk mencari dan menentukan adanya prestasi disekolah maka sifat dan mental pemberani harus didapati. Misalnya, berani didalam bertanya kepada guru jika tidak mengerti pelajaran, berani berbicara didalam kelas, berani didalam menjawab atas segala pertanyaan yang diberikan oleh sang guru.

Lalu berbicara karakter, maka para orangtua juga harus lebih ekstra lagi didalam membentuk karakter anak-anaknya. Karakter muncul akibat adanya kebiasaan kesahari-hari. Oleh sebab itu pastikan didalam lingkungan rumah harus mencotohkan perbuatan ataupun sikap yang baik, karena anak akan meniru apa yang akan didengar dan dilakukan oleh orang yang dilihatnya, sehingga itu semua akan berujung pada pembentukan karakter seorang anak. Dan karakter juga muncul karena adanya minat dan bakat, pastikan para orangtua harus melihat kemampuan, kesukaan, dan kebiasaan seorang anak ketika didalam kehidupan sehari-harinya. Misalnya, ada anak yang sukanya membaca Al-Qur,an, bermain musik dan lain sebagainya, maka dari situ orangtua harus menggiring anak-anaknya sesuai keinginan, kesukaan, dan kebiasaan, dari situlah akan memnculkan karekter asli dari seorang anak.

Dan ketika aspek-aspek tersebut sudah dipenuhi, maka aspek yang sangat dan paling penting adalah memberikan anak-anak kita dengan ilmu pengetahuan, yakni dengan cara rajin belajar. Ada pepatah yang mengatakan "Rajin pangkal pandai, malas pangkal bodoh". Dari pepatah tersebut kita dapat ambil kesimpulan, bahwa untuk mencapai kecerdasan, tidak ada cara lain yakni dengan belajar, dan jika malas justru  anak-anak kita akan bodoh. Kita asumsikan bahwa untuk membentuk anak-anak kita menjadi anak-anak yang cerdas, hal yang pertama kita lakukan adalah menyuruh agar anak-anak kita rajin belajar, dengan rajin belajar pastilah akan didapat dan diperoleh kecerdasan. Dan ada pepatah lagi yang mengatakan "Ala bisa karena biasa", hal itu menandakan bahwa kebisaan seorang didalam memperoleh prestasi adalah karena biasa dengan belajar.

Untuk itulah para orangtua harus menekankan betapa pentingnya belajar kepada para anak-anaknya. Dan jika tidak mampu mengajari anak-anaknya belajar disekolah, maka salah satu jalannya yakni menaruh atau menyuruh anak-anaknya untuk belajar ditempat kursus, les private, ataupun bimbingan belajar (bimbel), karena dengan begitu akan sedikit berkurang beban para orangtua didalam mengajari anak-anaknya.

(Penulis : Bimbel An-Nafesha)


Pentingnya Pendidikan Adab Dalam Kehidupan Seorang Anak

 

Ujian terberat orangtua terhadap anaknya yakni bagaimana menjadikan anak-anaknya sebagai generasi penerus, baik penerus didalam keluarga, agama, bangsa dan Negara. Untuk itu dalam mencapai hal tersebut, orangtua selalu berusaha untuk menjadikan anak-anaknya menjadi anaknya yang berpendidikan tinggi, dan mampu menguasai berbagai macam ilmu pengetahuan.

Tidak ada yang salah memang dalam hal tersebut, karena tentu para orangtua ingin melihat anak-anaknya lebih baik nasibnya dari orangtuanya, lebih pintar dari orangtuanya, lebih kaya dari orangtuanya dan sebagainya. Begitulah keadaan yang diinginkan orangtua terhadap anak-anaknya saat ini. Khususnya dalam konteks era globalisasi dan modernisasi seperti ini, zaman mengalami perubahan kearah yang lebih pesat. 

Tentu para orangtua lebih ingin anak-anaknya merespon atas perkembangan zaman. Akan tetapi era globalisasi dan modernisasi seperti saat ini justru membuat kebanyakan orangtua kecolongan terhadap anak-anaknya, sehingga yang terjadi adalah bagaimana para anak-anaknya menjadi anak-anak yang miskin ilmu dan miskin adab didalam kehidupan sehari-harinya.

Tanpa disadari globalisasi dan modernisasi yang ditandai dengan ledakan perkembangan teknologi dan informasi telah membuat arus yang sangat kencang. Memang pada dasarnya perkembangan zaman seperti ini tergantung dari manusianya yang melihat dan menyambutnya dengan cara seperti apa ?. Yakni dengan cara yang bijaksana, atau kita semua justru terjerumus dan terbawa arus perkembangan zaman ini ?, yang pada akhirnya kita semua tidak mampu mendidik anak-anak kita untuk mejadi lebih baik lagi.

Namun, ada satu aspek yang harus kita ketahui dan tekankan atas merosotnya anak-anak kita saat ini. Yang sering dilupakan oleh para orangtua terhadap anak-anaknya, yaitu aspek "Adab/Akhlak". Inilah persoalan yang sangat serius harus dihadapi oleh para orangtua. Jika masalah ilmu, InsyaAllah dengan sendirinya karena belajar, sekolah, bimbel, pastilah perlahan demi perlahan anak akan menyusaikan dan juga menyerap atas ilmu-ilmu tersebut.

Tapi masalah akhlak/adab, tidak lain tidak bukan, madrasah pertama harus dimulai adalah dari keluarga dan harus dibarengi dengan pendidikan agama yang cukup kuat. Mengenai konteks adab/akhlak ini, bagaimana kita para orangtua yang harus mempunyai peran sangat ekstra didalam penanaman adab/akhlak terhadap anak-anak kita pada awal pembentukan pribadi, mental, dan karakter.

Era globalisasi dan modernisasi ini, semakin berkembang dari negeri barat ke negeri timur. Dan perkembangan ilmu barat akhirnya masuk ke negara-negara timur seperti Indonesia saat ini. Hasilnya kita bisa lihat bagaimana efek tersebut akan berpengaruh terhadap anak-anak kita. Contoh kecilnya yakni handphone yang terus menggeliat, sehingga melalaikan anak-anak kita berakhlak baik kepada para orangtuanya, seperti jika disuruh orangtuanya tidak lagi mau bergerak, dan tidak lagi mau mendengarkan orangtuanya karena sibuk dengan handphone.

Lalu bagaimana mengatasi kemerosotan akhlak pada anak-anak kita ?. Tidak lain tidak bukan yakni harus dilakukannya oleh para orangtua yakni  :

1). Tanamkan pendidikan akhlak dan adab sejak balita, sehingga itu semua akan terbiasa terhadap anak-anak kita sampai dewasa. 

2). Menjaga anak-anak kita dari makanan dan minuman yang haram, baik dari segi pemerolehannya bahkan dari segi zatnya. 

3). Lalu pilihlah sekolah yang mampu menumbuhkan adab dan perangai yang baik dalalm kehidupan sehari-harinya seperti pondok pesantren, jika tidak disekolahkan dipondok pesantren, maka selepas sekolah formal biasa, maka orangtua wajib untuk mendidik secara lebih dan ekstra

4). Serahkan anak-anak anda kepada para guru ngaji yang arif dan ikhlas, jika para orangtua tidak bisa mengajar mengaji anak-anaknya. Karena dengan menyerahkan anak-anak kita mengaji kepada guru ngaji, maka pendidikan adab/akhlak anak-anak kita akan terjamin

Untuk itu sudah sepatutnya bagi para orangtua terus perihatin dan lebih perduli terhadap masalah adab/akhlak anak-anaknya. Kita tidak melarang anak-anak kita untuk berpendidikan tinggi, cerdas, kaya dll, itu memang kewajiban para orangtua. Namun, alangkah baiknya jika pengetahuan yang luas, dan pendidikan yang tinggi tersebut harus dibarengi dengan adab, akhlak, sopan santun. Karena buat apa anak-anak kita cerdas, kaya, berpendidikan tinggi namun miskin adab/akhlak.

Mari kita ajarkan anak-anak kita agar beradab, berakhlak, dan bersopan santun, baik dengan orangtuanya, orang yang lebih tua, orang yang lebih muda, terhadap kakak-adiknya, saudaranya, bahkan kepada teman sebayanya. Hal tersebut tidak lain tidak bukan harus kita mulai dari keluarga kita sendiri.

Semoga kita semua mendapatkan keberkahan adab dan akhlak dari Allah SWT

(Penulis : Bimbel An-Nafesha)


Anak Beranjak Remaja, Lakukanlah Hal Ini

Ketika anak sudah beranjak remaja, banyak perubahan yang tidak hanya dialami oleh anak. Orang tua pun ikut mengalami perubahan. Dari yang ta...